Penemuan Cyrtodactylus belanegara: Spesies Baru Cecak Jari Lengkung di Kawasan Sentul

Keanekaragaman hayati Indonesia kembali mengungkap rahasia barunya, dan kali ini datang dari kawasan penyangga ibu kota. Kolaborasi riset antara peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dosen Program Studi S-1 Biologi Universitas Pertahanan RI (Unhan RI), Dr. Isna Arofatun Nikmah, S.Si., M.Si., berhasil mendeskripsikan spesies baru cecak jari lengkung (genus Cyrtodactylus). Menariknya, reptil endemik ini ditemukan bersembunyi di kawasan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Sentul, Bogor, yang membuktikan bahwa area strategis militer dan sub-urban ternyata masih menyimpan kekayaan ekologi yang belum sepenuhnya terjamah.

Cecak nokturnal yang aktif di malam hari ini memiliki ukuran yang mungil, dengan panjang tubuh (tanpa ekor) hanya berkisar antara 4,6 hingga 5,3 sentimeter. Spesies ini tercatat sebagai spesies Cyrtodactylus keempat yang pernah dilaporkan di Pulau Jawa dan masuk ke dalam kelompok spesies C. marmoratus. Spesies baru ini memiliki karakteristik fisik yang sangat khas dan membedakannya dari kerabat lain, seperti ketiadaan benjolan (tubercles) pada permukaan atas lengannya, susunan spesifik pada sisik perut, serta pola pori-pori kelenjar khusus pada area bawah tubuh pejantannya, yang menjadikannya unik secara taksonomi.

Tidak hanya dari bentuk fisiknya, validitasnya sebagai spesies baru juga dikonfirmasi kuat oleh bukti genetika molekuler. Berdasarkan keunikan tersebut, tim peneliti secara resmi memberikan nama ilmiah Cyrtodactylus belanegara. Pemilihan nama epitet "belanegara" ini secara khusus disematkan untuk merepresentasikan nilai-nilai dasar "Bela Negara" yang menjadi fondasi Universitas Pertahanan RI, sekaligus menjadi penghormatan atas lokasi penemuannya di area instalasi militer strategis PMPP TNI. Melalui analisis DNA pada gen mitokondria ND2, tim peneliti menemukan bahwa Cyrtodactylus belanegara memiliki jarak genetik sebesar 21,3% hingga 22,3% jika dibandingkan dengan dua kerabat terdekatnya di Jawa, yakni C. marmoratus dan C. semiadii. Temuan ilmiah ini telah diakui dunia dan dipublikasikan secara resmi pada jurnal herpetologi internasional bergengsi, Herpetologica, Volume 80 edisi ke-4 tahun 2024.

Penemuan berharga di area pinggiran kota Bogor ini membawa pesan krusial mengenai pentingnya upaya observasi dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan, bahkan di habitat yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Kesuksesan deskripsi spesies baru ini juga menjadi catatan prestasi yang membanggakan bagi Biologi Unhan RI dalam mengukuhkan kontribusi risetnya. Sinergi yang sangat baik antara akademisi Unhan RI dan peneliti BRIN ini diharapkan dapat terus memacu eksplorasi sains lebih lanjut guna memetakan, mendokumentasikan, dan menjaga ketahanan biodiversitas Indonesia.

 

Sumber:

Riyanto, A., Hikmah, I. A., Amarasinghe, A. T., Abinawanto, A., & Hamidy, A. (2024). Another New Bent-Toed Gecko of the Cyrtodactylus marmoratus Group (Reptilia: Gekkonidae) from West Java, Indonesia. Herpetologica, 80(4), 358-367.